Perlawanan tak berhenti. Cut Nyak Meutia menikah lagi dengan Pang Nangru, pria yang ditunjuk suami pertamanya untuk mendampingi perjuangan mujahidah dari Perlak itu.
Pang Nangru merupakan orang kepercayaan Teuku Cik Tunong. Bersama suami keduanya, Cut Nyak Meutia terus melanjutkan perjuangan melawan penjajah Belanda.
Belanda pun kian marah. Pengepungan terhadap Cut Nyak Meutia kian diperketat. Pasukan sang mujahidah pun kian terpukul.
Dengan cara bergerilya, Cut Nyak Meutia menghindar ke pedalaman rimba Pasai. Ia bersama pejuang Aceh berpindah-pindah tempat. Hingga akhirnya, pada September tahun 1910, Pang Nangru gugur. Cut Nyak Meutia berhasil meloloskan diri.
Kekuatan pun kian melemah. Terlebih, beberapa teman Pang Nangru akhirnya menyerahkan diri. Cut Nyak Meutia tak gentar. Ia terus melakukan perlawanan sembari bergerilya bersama putranya, Raja Sabil. Pada 24 Oktober 1910, pasukan Belanda mengetahui tempat persembunyiannya.
Berbekal sebilah rencong di tangannya, Cut Nyak Meutia tetap melawan gempuran senjata api. Sampai tetes darah penghabisan, sang mujahidah tetap membela keyakinannya.
Ia gugur setelah tiga butir peluru bersarang di kepala dan dadanya. Ia gugur sebagai seorang pahlawan bagi rakyat Aceh dan mujahidah bagi agamanya.
sumber; http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/10/09/mbmd43-cut-nyak-meutia-mujahidah-dari-serambi-makkah-3habis
IKRAR Lamteh merupakan satu episode dalam sejarah perjuangan DI/TI di
Aceh. Ikrar tersebut adalah perjanjian perdamaian antara pemerintah
Indonesia dan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia. Ikrar digelar di
desa Lamteh tahun 1957 Masehi (sekarang menjadi salah satu desa di
Kecamatan Pekan Bada, Aceh Besar).
Salah satu poin dalam perjanjian tersebut yaitu kedua belah pihak
menyatakan berdamai dan tidak lagi melakukan peperangan. Selain itu, hal
yang terpenting adalah Keresidenan Aceh yang sebelumnya di bawah
Sumatera Utara, dikembalikan lagi Provinsi Otonomi Aceh, Daerah Istimewa
Aceh.
Sabtu
13 Oktober 2012, atjehpost.com mengunjungi desa Lamteh. Dengan
menggunakan sepeda motor, hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari pusat
kota Banda Aceh. Tidak begitu sulit menemukan lokasi yang dijadikan
tempat ikrar tersebut. Ia berada persis di jalan lintas Lamteh – Ujong
Pancu. Tepatnya di ujung sebuah jembatan yang setelah bencana tsunami
2004 lalu mulai dijadikan sebagai lokasi wisata memancing.
“Balai Ikrar Lamteh”, begitu tertera tulisan pada pintu gerbang sebuah
balai. Halamannya dipenuhi ilalang yang tumbuh liar. Tumpukan papan dan
balok yang berserak memberi kesan bahwa balai tersebut adalah ‘panglung
kayu’. Di belakang balai ada hamparan tambak yang telah menyatu dengan
laut. Terdapat sebuah tempat pembuatan perahu di sana. Tumpukan papan
dan kayu itu ternyata adalah bahan baku pembuatan perahu. Sekitar 20
meter dari balai terdapat beberapa warung dan kedai.
Di balai terdapat sebuah tugu bertuliskan isi Ikrar Lamteh, “Disinoe
keuh keuseupakatan dame antara pihak Darul Islam Indonesia ngon
Peumeurintah Indonesia bak thon 1957 M. Oeh lheuh Ikrar Lamteh,
keuresidenan Aceh nyang watee nyan keuresidenan miyup Sumatera Utara
jeut keu provinsi Aceh teuma.”
Namun, warga Desa Lamteh mengatakan balai tersebut bukanlah lokasi yang
dipakai saat “Ikrar Lamteh”. “Itu hanya sekolah TK (Taman Kanak-kanak)
yang setelah tsunami direhab dan dibuat menjadi balai ikrar Lamteh,”
ujar Bakhtiar, seorang warga.
Lokasi
sebenarnya yang dipakai saat perjanjian itu, manurut Bakhtiar, adalah
sebuah rumah yang letaknya beberapa ratus meter dari balai tersebut,
“Perjanjian Lamteh dilakukan di rumah Pawang Leman,” kata dia.
Pawang Leman sendiri, menurut Bakhtiar adalah salah seorang tokoh DI/TI
yang ketika itu berani menjadi tuan rumah untuk penanda anganan
perdamaian. “Saat beberapa orang ragu untuk memilih lokasi ikrar, Pawang
Leman menawarkan rumahnya,” ujar lelaki tersebut.
Mengenai keputusan “menyulap” TK sebagai balai Ikrar Lamteh, kata
Bakhtiar, karena pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Tsunami
Aceh 2004 lalu, pihak keluarga Pawang Leman tidak berada di Aceh. Saat
NGO datang menawarkan sebuah bangunan sebagai monumen peristiwa Ikrar
Lamteh, pihak aparat desa tidak berani memberi izin untuk pendirian di
lokasi rumah Pawang Leman. Maka, kata Bakhtiar, aparat desa memutuskan
menunjuk lokasi TK tersebut karena itu merupakan tanah desa.[yas]
sumberrhttp://atjehpost.com/read/2012/10/13/24040/0/39/Menziarahi-Monumen-Ikrar-Lamteh
JAKARTA - Peneliti sejarah sekaligus redaktur senior Radio Nederland,
Joss Wibisono berkisah banyak mengenai persinggungan budaya Eropa di
Indonesia. Hasil penelitian dan pengamatannya itu lalu dibukukan, dengan
judul “Saling Silang Indonesia-Eropa: dari diktatur, musik, hingga
bahasa”. Buku ini diterbitkan September 2012, oleh Penerbit Marjin Kiri.
Semuanya berasal dari esai-esai lepas yang ditulis Joss di beragam
media nasional dan jurnal, baik dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan
Belanda. Sejarah dan musik menempati porsi ketertarikan yang utama,
bercampur politik yang memang menjadi bungkus besar pemikirannya.
Seperti ketika ia menggugat, betulkah Belanda menjajah Indonesia selama
350 tahun?
Lalu bagaimana dengan sejarah kedatangan Belanda di Aceh dan Bali,
apakah kedua daerah ini dijajah Belanda selama 350 tahun juga?
“Awalnya saya usil karena orang Indonesia selalu bilang kita dijajah
Belanda selama 350 tahun. Kalau hitungannya adalah kedatangan kapal VOC
tahun 1602 maka kita baru merdeka tahun 1952! Jadi bagaimana dengan
proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengakuan kedaulatan oleh Belanda pada 27
Desember 1949?” tulis Joss dalam bukunya.
Seterusnya ia mencontohkan Aceh, yang menurutnya baru ditaklukkan
Belanda pada tahun 1904, dan Bali pada 1906. Bahkan Belanda baru resmi
berkuasa di Aceh tahun 1912, kata Joss.
“Dengan begitu Aceh maksimal dijajah Belanda selama 38 tahun dan Bali
selama 36 tahun. Jangankan 350 tahun, seabad pun tidak pernah Belanda
menjajah Aceh dan Bali,” ujar Joss usai peluncuran bukunya di Jakarta,
Minggu 23 September 2012 lalu.
Masih soal sejarah Belanda di Aceh, Joss menuturkan kepahlawanan Tjut
Njak Dien yang berperang habis-habisan mempertahankan kemerdekaan dan
kedaulatan Aceh.
“Tapi ia (Tjut Njak Dien) memberontak bukan karena dijajah Belanda.
Waktu itu, sekali lagi, Aceh belum dikuasai Belanda," kata dia di
halaman 115-116 dalam bukunya.
Kata Joss, sampai akhir abad 19 Aceh adalah negara yang berdaulat, bahkan sudah memiliki Duta Besar sampai ke Turki.
"Bukankah dengan menganggap Indonesia dikuasai Belanda selama 350
tahun, berarti kita juga menganggap Aceh sudah lama dikuasai Belanda,
sehingga itu berarti Kesultanan Aceh dan perlawanan Tjut Njak Dien
kehilangan maknanya,” ujar Joss sepanjang halaman 115-116 bukunya.
Meskipun topik yang ditulisnya cukup berat, namun Joss menulisnya
dengan gaya bertutur yang mengalir lugas dan lancar. Boleh jadi karena
pengalamannya selama 25 tahun menjadi wartawan radio.(bna)
EMIMPIN Revolusi Kuba Fidel Castro sejak dulu dikenal anti-Amerika
Serikat. Lewat prinsip komunisnya dia memimpin negara kecil berhadapan
dengan raksasa kapitalis itu. Tetapi siapa sangka di balik sikap
disiplin dan pemikiran sakleknya, penggemar cerutu itu ternyata paling
rewel soal makanan.
Jarang ada pemimpin negara mau turun tangan atau sekedar melongok kerja
koki di dapur. Fidel Castro kerap berdiskusi dengan juru masak tentang
menu saban hari sebelum mereka mulai memasak. Selain itu dia juga bakal
memilih minuman anggur jenis apa yang cocok sebagai pelengkap hidangan.
Jika anggur tidak tersedia, dia memilih whisky sebagai teman bersantap,
seperti dilansir dari situs www.wikipedia.org, Senin (30/7).
Penggemar kostum hijau lumut dan topi pet gaya perwira militer lapangan
itu memiliki gaya hidup displin. Dia kerap bekerja hingga dini hari dan
baru menutup mata pada pukul tiga atau empat pagi. Dia sering mengerjai
para diplomat asing ketika akan bertemu dengannya. Mereka selalu
disuruh menghadap Castro jam empat atau lima subuh. Alasannya sederhana
saja, agar dia lebih mendominasi pembicaraan sehingga para duta besar
atau konsul itu tidak banyak berkutik lantaran masih mengantuk.
Demi menjaga kebugaran tubuh, Castro selalu berolahraga saban hari,
terutama lari. Setelah itu dia mandi lalu membaca jika tidak memiliki
agenda penting. Dia memang gila buku, meski tidak diketahui berapa
banyak halaman dia baca tiap saat. Salah satu penulis novel favoritnya
adalah Ernest Hemingway.
Sebagai seorang pemimpin revolusi dan musuh utama Amerika, Castro
merasa perlu mempersenjatai diri. Maka dari itu, pistol revolver tidak
pernah jauh-jauh dari ikat pinggang teman seperjuangan Ernesto "Che"
Guevara itu. Dari kunjungan kerja sampai memberikan orasi, senjata api
harus selalu ada. Jauh sebelum menjadi pemberontak, ternyata sejak muda
lelaki itu tertarik dengan senjata api. Dia pun banyak menghabiskan
waktunya di daerah pedesaan ketimbang di kota. [fas] | sumber: merdeka
7 World's Greatest Female Sailors
1. Grace O’ Malley
Gráinne Ní Mháille
Nickname : Gráinne Mhaol, Granuaile
Type : Pirate
Place of birth : Connaught, Ireland
Place of death : most likely Rockfleet Castle
Allegiance : Ó Máille[disambiguation needed ] Clan
Battles/wars : Nine Years War (Ireland)
Krystyna Chojnowska-Liskiewicz
Born : 15 July 1936
Warsaw : Nationality Poland
Occupation : Hero
Known for : Sailing around the globe single handed
Laura Dekker is a Dutch sailor. Laura Dekker born 20 September 1995, In 2009 she announced her plan to become the youngest person to circumnavigate the globe single-handed. Dekker successfully completed the solo circumnavigation in an 11.5-metre (38 ft) two-masted ketch, arriving in Simpson Bay, Sint Maarten, on 21 January 2012.
Laura Dekker
Born : 20 September 1995 (age 16) Whangarei, New Zealand
Nationality : Dutch, German, New Zealand
Occupation : Sailor
Known for : The youngest person to sail solo around the world, with stops
Parents : Dick Dekker and Babs Müller
